Investasi di saham ini 6 bulan lalu, liat hasilnya sekarang

“Waspadalah ketika orang-orang serakah, dan serakahlah ketika orang-orang takut.” – Warren Buffet

Mengutip kalimat bijak dari investor legendaris Warren Buffet, yuk kita bahas bagaimana kondisi investasi saham selama pandemi korona di tahun 2020!

Mengingat situasi ekonomi di tahun 2020 yang membuat dag dig dug duar karena bencana pandemi virus COVID19 di seluruh dunia.

Namun, memiliki uang kas memberikan anda kesempatan untuk membeli aset saham atau properti yang terdiskon di jual di bawah harga rata-rata sebelum krisis. Contohnya, pada bulan Maret, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun hingga di bawah 4.000 di tengah pandemi ini.

Walaupun banyak investor institusi berdana besar mengalihkan aset mereka ke instrumen yang lebih aman seperti emas dan obligasi, ada juga investor individu yang melirik potensi saham untuk berinvestasi. Nyatanya, jumlah investor di pasar modal Indonesia tumbuh 26,2% dibandingkan akhir 2019.

Mengapa investasi saham?
Sebelum menganalisa sentimen dan keuntungan investasi di saat resesi korona 2020, ada baiknya kita memahami tujuan dari investasi saham.

Investasi diperlukan bagi Anda yang memiliki tujuan keuangan jangka pendek, menengah dan panjang. Tujuan keuangan orang untuk investasi pun beragam, misalnya beli rumah, biaya menikah, biaya pendidikan anak, biaya berangkat ibadah haji/umrah, biaya jalan-jalan keluarga hingga biaya hidup untuk pensiun di hari tua nanti.

Saham adalah investasi instrumen dengan risiko tinggi, namun potensi keuntungan yang cukup tinggi. Instrumen saham bisa menjanjikan return di atas 10% per tahun dan cocok untuk investasi jangka panjang yang lebih dari 3 tahun.

Saham bangkit dari kubur dengan profit menjulang pada tahun 2020
Bagi sebagian orang yang memiliki uang kas, investasi saham di saat pandemi merupakan peluang untuk mendapatkan keuntungan ketika perekonomian kembali normal setelah pandemi. Kamu bisa melihat beberapa margin keuntungan investasi saham di tahun 2020 ini.

Tapi, tetap cermat ya! Mengatur keuangan dalam berinvestasi harus berhati-hati.
“Risk comes from not knowing what you’re doing.” – Warren Buffet
“Risiko datang dari tidak memahami apa yang kamu lakukan.” – Warren Buffet

Sebelum investasi saham, Anda perlu ketahui hal-hal dasar seputar investasi saham. Tujuannya adalah agar Anda bisa mengerti keuntungan hingga risiko dari investasi saham sehingga Anda mampu memaksimalkan keuntungan investasi.

Pada saat pandemi ada beberapa prinsip manajemen keuangan yang harus kamu ingat sebelum memutuskan untuk terjun ke investasi saham.

  1. Jangan menggunakan uang dana darurat

Dana darurat yang minimal harus ada sejumlah 6 bulan pengeluaran bulanan kamu sebaiknya disimpan di aset yang aman, liquid, dan mudah diambil. Oleh karena itu, saham yang nilainya sering naik dan turun bukanlah tempat yang aman untuk kamu menyimpan dana darurat. Karena bisa saja, ketika kamu membutuhkan uang nilai saham tersebut sedang merugi. Bahkan idealnya modal yang ditanam di saham adalah uang dingin yang menganggur dan tidak dibutuhkan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.

2. Tentukan proporsi investasi dan trading
Kamu ingin terjun ke bursa untuk investasi atau trading? Perbedaan investasi dan trading adalah, jika investasi bertujuan menciptakan kekayaan dalam jangka panjang dengan membeli perusahaan bagus dan menahannya untuk jangka waktu lama, maka trading bertujuan menghasilkan keuntungan dengan sering membeli dan menjual saham. Kamu bisa membagi modal kamu menjadi dua (50-50) untuk trading dan investasi sama rata atau 70% untuk investasi dan 30% untuk trading. Semua tergantung dengan moda dan rencana keuanganmu

3. Tentukan manajemen portofolio saham
Masa krisis merupakan saat yang tepat untuk mengoleksi saham yang cenderung lebih “aman” untuk dipegang investasi jangka panjang. Idealnya, saham-saham yang biasanya cukup mahal ini dibeli saat terdiskon di kala krisis atau sentimen negatif. Kamu bisa tetapkan 10-20% dari nilai total portofolio investasi jangka panjang untuk membeli saham-saham blue chips. Contohnya, saham-saham blue chip sektor defensif seperti ICBP dan UNVR cenderung memiliki kenaikan dan penurunan yang tidak terlalu drastis di saat krisis maupun recovery pasca krisis. Demikian juga saham-saham blue chip perbankan dengan kapitalisasi yang besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI.

Selain saham untuk investasi jangka panjang, beberapa saham yang bersifat lebih siklikal (e.g. sektor tambang dan metal) dan volatile (e.g. saham lini kedua atau ketiga dengan kapitalisasi lebih rendah di banding blue chip) juga bisa dikoleksi untuk trading jangka pendek (harian) atau jangka menengah (3-6 bulan). Sebaiknya, menyesuaikan proporsi di saham siklikal sebesar 10% dari modal trading dan saham yang sangat volatile cukup 5% dari modal trading. Hal ini dikarenakan pola naik-turun harga saham-saham tersebut cukup signifikan. Sehingga, bisa bikin jantungan bagi pemula yang tidak terbiasa dengan volatilitas harga saham.
Menilik infografis keuntungan saham yang cukup WOW di atas, saham-saham tersebut adalah saham siklikal atau lini tiga yang cocok untuk trading. Contohnya, ANTM dan INCO adalah saham dari sektor pertambangan emas dan nikel yang cenderung bersifat siklikal yang sangat terpengaruh dengan harga komoditas tambang dan nilai tukar rupiah. Sementara BRIS adalah saham lini tiga yang cukup volatile dikarenakan kapitalisasinya masih kecil. Bukan berarti tidak baik untuk dibeli, tetapi kamu harus paham bahwa jenis saham yang berbeda memiliki fluktuasi risiko yang berbeda juga. Pastikan fundamental keuangan perusahaan untuk trading juga cukup sehat ya! Alias cukup kas, tidak terlalu banyak merugi, dan hindari pailit hutang.

4. Mulailah dari jumlah yang kecil
Mulai dengan jumlah kecil dulu ketika mukai belajar. Pastikan dana investasi saham tersebut berasal dari tabungan, bukan dari pengeluaran kebutuhan primer atau dana darurat. Jangan sampai anggaran kebutuhan pribadi kamu terusik.

Normalnya, dana yang bisa terpakai untuk investasi saham yakni berkisar 10% dari penghasilan bulanan. Apabila melebihi rasio itu tidak masalah asalkan tidak memberatkan kamu di kemudian hari ataupun malah harus berutang.

Seiring bertambahnya ilmu kamu, kamu bisa menambah jumlah modal kamu di kemudian hari.

5. Tidak perlu FOMO (Fear of Missing Out)
Tidak perlu merasa kecewa dan menyesal kalau ketinggalan kenaikan BRIS atau ANTM yang berkali lipat. Kesempatan trading yang lain selalu ada. Selama kamu mulai belajar, pasti bisa melihat peluang multi-bagger di masa yang akan datang!

Share this

Share on facebook
Share on linkedin
Share on twitter
Share on whatsapp